Solidaritas dari Ranah Minang, Insan Pers Sumbar Doakan Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda
Solidaritas dari Ranah Minang, Insan Pers Sumbar Doakan Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda
Suasana duka dan harapan menyelimuti kawasan Tugu IORA, Pantai Padang, pada Sabtu (12/9/2026) sore. Di bawah langit yang sedikit mendung, puluhan insan pers dari berbagai organisasi media di Sumatera Barat berkumpul untuk satu tujuan mulia: menggelar aksi solidaritas dan doa bersama demi keselamatan lima orang jurnalis serta tiga kru kapal yang hingga saat ini masih dinyatakan lost contact atau hilang di perairan Selat Sunda. Para awak media ini berdiri melingkar dengan kepala tertunduk, menangkupkan tangan, dan memanjatkan doa agar rekan seprofesi mereka segera ditemukan dalam keadaan selamat setelah menjalankan misi peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Peristiwa hilangnya jurnalis di medan bencana ini menjadi pengingat pahit bagi komunitas pers nasional akan tingginya risiko yang melekat pada profesi wartawan. Kehadiran mereka di lokasi bencana adalah wujud dedikasi untuk menyajikan informasi terkini kepada publik, namun nahas, mereka justru terjebak dalam situasi yang mengancam nyawa. Di Padang, solidaritas lintas organisasi—mulai dari PFI, AJI, PWI, hingga IJTI—menunjukkan bahwa rasa persaudaraan di kalangan jurnalis tidak mengenal sekat, melampaui kepentingan redaksi masing-masing demi kemanusiaan.
Ketua Umum PFI Padang, Arif Pribadi, dalam sambutannya menekankan bahwa aksi ini adalah bentuk ikhtiar batin. "Doa bersama ini kita peruntukkan bagi lima orang jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang. Kita berharap tim SAR gabungan diberikan kemudahan dalam proses pencarian dan rekan-rekan kita segera ditemukan dalam kondisi sehat walafiat," ucapnya. Harapan senada disampaikan oleh Afdal Afrianto, perwakilan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang. Ia menegaskan bahwa musibah yang menimpa jurnalis di Selat Sunda adalah pukulan telak bagi dunia pers Indonesia, dan aksi di Pantai Padang ini diharapkan mampu mengirimkan energi positif bagi keluarga korban serta tim yang sedang berjuang di lapangan.
Zulia Yulandani, yang mewakili Jurnalis Perempuan Sumatera Barat, menyoroti aspek keselamatan kerja yang sering kali terabaikan dalam euforia peliputan. Menurutnya, peristiwa ini harus menjadi alarm bagi seluruh jurnalis bahwa risiko tidak memandang gender maupun posisi. "Kita harus bersolidaritas, solid, dan selalu siap siaga. Jurnalis mana pun bisa menjadi korban jika kita tidak mengutamakan keselamatan diri. Mari kita leburkan sekat organisasi demi kemanusiaan dan saling menjaga satu sama lain," tegasnya dengan nada yang emosional.
Sudut pandang serupa juga disampaikan oleh Komisioner KPID Sumbar, Noval Wiska. Baginya, hilangnya lima jurnalis tersebut adalah duka nasional. Ia memberikan catatan kritis bahwa tidak ada satu pun berita yang lebih berharga daripada nyawa manusia. "Ini duka kita semua. Kejadian ini harus menjadi pelajaran berharga bagi insan pers tanah air. Dalam setiap peliputan, terutama di zona berbahaya seperti gunung berapi atau lokasi bencana, safety harus menjadi prioritas utama. Kita harus ingat bahwa di rumah ada keluarga yang menanti kepulangan kita dengan selamat," ujar Noval.
Dari sisi manajemen risiko, jurnalis senior PWI Sumbar, Pedo, menekankan perlunya evaluasi sistemik terkait mitigasi bencana dalam jurnalistik. Menurutnya, selama ini sering kali jurnalis terjun ke medan bencana hanya berbekal keberanian tanpa dukungan peralatan keamanan yang memadai atau pengetahuan survival yang cukup. Ke depannya, ia berharap organisasi pers di seluruh Indonesia lebih intensif memberikan pelatihan mitigasi bencana bagi para jurnalis lapangan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Kehadiran unsur kepolisian, dalam hal ini Tim Klewang Polresta Padang, menambah haru suasana. IPDA David Wewe, perwakilan dari tim tersebut, menyampaikan simpati mendalam. Bagi pihak kepolisian, jurnalis bukan sekadar mitra kerja, melainkan sahabat dalam menjaga ketertiban umum. "Jurnalis dan polisi adalah mitra dalam menjaga daerah. Kami memandang mereka sebagai saudara. Kami sangat berharap mereka bisa segera ditemukan dan berkumpul kembali dengan keluarga," tuturnya. Ia juga menggarisbawahi betapa beratnya tugas jurnalis yang harus bertaruh nyawa demi menyajikan informasi yang valid bagi masyarakat.
Acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Fauzi, seorang jurnalis dari Harian Haluan. Ketua IJTI Sumbar, Defri Imung Mulyadi, dalam pernyataan penutupnya menegaskan bahwa aksi di Pantai Padang ini hanyalah satu dari sekian banyak gelombang doa yang dipanjatkan jurnalis di seluruh penjuru Nusantara. "Hari ini kita bermunajat kepada Allah SWT. Semoga kelima jurnalis dan tiga awak kapal yang membawa mereka diberikan perlindungan dan segera ditemukan dalam kondisi selamat. Doa kami menyatu dengan seluruh insan pers di Indonesia," pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian oleh tim SAR gabungan di perairan Selat Sunda masih terus dilakukan. Tantangan cuaca dan medan laut yang cukup ekstrem menjadi kendala utama bagi para penyelamat. Namun, semangat solidaritas yang ditunjukkan oleh insan pers Sumatera Barat ini menjadi bukti nyata bahwa jurnalis adalah keluarga besar yang akan selalu berdiri tegak untuk saling menguatkan dalam situasi tersulit sekalipun.
Peristiwa ini juga menjadi cermin bagi perusahaan media untuk lebih peduli terhadap perlindungan jurnalisnya. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) jurnalis tidak boleh dipandang sebelah mata. Setiap jurnalis yang dikirim ke medan konflik atau bencana harus dibekali dengan asuransi yang layak, peralatan keamanan, serta pelatihan khusus agar mereka dapat menjalankan tugas dengan aman. Dunia pers membutuhkan jurnalis yang tangguh, namun yang lebih utama, dunia membutuhkan jurnalis yang selamat agar tetap bisa memberikan kontribusi informasi bagi bangsa.
Harapan besar kini tertuju pada tim SAR gabungan. Setiap detik yang berlalu adalah waktu yang krusial. Doa-doa dari Pantai Padang dan berbagai pelosok negeri adalah energi bagi para petugas pencari di lapangan untuk terus menyisir perairan, mencari tanda-tanda keberadaan rekan-rekan jurnalis tersebut. Kita semua berharap keajaiban akan terjadi, bahwa mereka yang hilang akan kembali dengan selamat, membawa cerita perjuangan, dan kembali ke ruang redaksi untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai penyambung lidah rakyat.
Solidaritas yang ditunjukkan di Tugu IORA, Padang, bukanlah sekadar seremonial belaka. Ini adalah pernyataan sikap bahwa nyawa seorang jurnalis adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Setiap tetes air mata yang jatuh dan setiap kata dalam doa yang dipanjatkan adalah wujud kasih sayang sesama anak bangsa yang berprofesi sebagai pewarta. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan, keselamatan, dan kekuatan bagi seluruh pihak yang terlibat, baik bagi para korban yang hilang maupun tim SAR yang sedang bertaruh nyawa di tengah ganasnya laut Selat Sunda.
Sebagai penutup, peristiwa ini mengajarkan kita tentang arti penting persatuan. Dalam situasi normal, jurnalis mungkin sibuk dengan persaingan deadline dan eksklusivitas berita. Namun, ketika musibah datang, semua ego luntur. Semua bersatu, merapatkan barisan, dan memohon pertolongan Tuhan. Inilah esensi dari jurnalisme yang sesungguhnya: sebuah profesi yang tidak hanya mengandalkan pena dan kamera, tetapi juga hati yang selalu terpaut pada nilai-nilai kemanusiaan. Semoga lima jurnalis tersebut segera pulang ke pelukan keluarga mereka dengan selamat.