Universitas Andalas Perkuat Mitigasi Bencana Nasional Melalui ICDM 2026
Universitas Andalas Perkuat Mitigasi Bencana Nasional Melalui ICDM 2026
Universitas Andalas (UNAND) kembali mengukuhkan posisinya sebagai institusi pendidikan yang peduli terhadap isu-isu krusial kebencanaan dengan menyelenggarakan The 5th International Conference on Disaster Management (ICDM) 2026. Mengusung tema besar "Integrating Technology and Local Wisdom for Sustainable Disaster Management", konferensi internasional ini menjadi wadah strategis bagi para akademisi, praktisi, pembuat kebijakan, dan komunitas global untuk merumuskan langkah-langkah konkret dalam menghadapi ancaman bencana alam yang semakin kompleks di masa depan.
Dalam perhelatan yang mempertemukan berbagai pakar lintas disiplin ilmu tersebut, fokus utama diskusi tertuju pada urgensi integrasi kearifan lokal ke dalam sistem manajemen bencana modern. Di tengah kemajuan teknologi mitigasi yang pesat, para pembicara menekankan bahwa keberhasilan dalam menekan risiko bencana tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya dan sejarah masyarakat setempat. Upaya ini dipandang sebagai kunci untuk mendekatkan masyarakat pada mitigasi bencana yang partisipatif, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap budaya kewaspadaan dini yang berkelanjutan.
Sekretaris Utama (Sestama) BNPB, Dr. Rustian, dalam pemaparannya memberikan penekanan khusus mengenai nilai strategis kearifan lokal. Menurutnya, kearifan lokal bukan sekadar tradisi masa lalu, melainkan repositori ingatan kolektif masyarakat yang berisi pengalaman empiris berharga yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pengalaman-pengalaman tersebut, seperti sistem peringatan dini berbasis tanda alam atau arsitektur rumah tahan gempa tradisional, seharusnya menjadi pondasi utama dalam penyusunan strategi mitigasi bencana nasional yang lebih humanis dan tepat sasaran.
Dr. Rustian secara tegas mendukung para akademisi agar riset-riset ilmiah dan pengembangan teknologi di masa depan tidak berdiri sendiri, melainkan diselaraskan dengan kearifan lokal yang ada di setiap daerah. Integrasi ini diharapkan mampu menciptakan sistem kebencanaan yang memberikan manfaat nyata dan mudah diterima oleh masyarakat luas. Ia juga menyoroti perlunya pergeseran paradigma dalam pengelolaan bencana, yakni dengan melakukan penguatan serius pada aspek pengurangan risiko bencana di fase pra-bencana. Mengingat ancaman bencana alam, khususnya di wilayah "Cincin Api" seperti Indonesia, sering terjadi secara berulang, maka fokus pada pencegahan dan kesiapsiagaan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar terjebak pada pola reaktif penanganan pasca-bencana.
Senada dengan hal tersebut, Rektor UNAND, Dr. Efa Yonnedi, S.E., MPPM., Akt., menyampaikan bahwa tantangan kebencanaan adalah tantangan bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang inklusif. Universitas, lanjutnya, memiliki peran strategis sebagai jembatan ilmu pengetahuan yang mampu menerjemahkan temuan riset menjadi kebijakan yang aplikatif. Ia merujuk pada pengalaman traumatis namun berharga dari peristiwa gempa bumi tahun 2009 di Sumatera Barat sebagai pembelajaran kolektif dalam memperkuat struktur kesiapsiagaan masyarakat.
Dalam pandangan Dr. Efa Yonnedi, teknologi memang telah memberikan berbagai instrumen canggih bagi umat manusia untuk memahami risiko bencana, mulai dari sistem peringatan dini yang presisi, pemodelan dinamika kebencanaan, hingga penggunaan kecerdasan buatan dalam mendukung pengambilan keputusan yang cepat. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi bukanlah solusi tunggal. "Kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi. Disinilah proses mengintegrasikan teknologi dan kearifan lokal untuk manajemen bencana yang berkelanjutan menjadi sangat krusial. Kita perlu mempertemukan kecanggihan teknologi modern dengan kearifan lokal atau local wisdom agar manajemen bencana kita menjadi lebih adaptif dan tangguh," tegasnya.
Pentingnya sinergi antara ilmu pengetahuan dan kesadaran masyarakat juga ditegaskan oleh Gubernur Sumatera Barat yang diwakili oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Ir. Yozawardi Usama Putra, S.Hut., M.Si., IPU. Menurutnya, membangun kesiapsiagaan adalah sebuah proses edukasi yang tidak pernah berhenti. Ia menyoroti dikotomi antara potensi bencana dan kepastian waktu kejadian yang sering kali menjadi sumber kecemasan publik.
"Potensi bukanlah sebuah prediksi waktu. Kita semua mengetahui bahwa Sumatera Barat memiliki potensi ancaman gempa besar, namun kita tidak pernah mengetahui secara pasti kapan hal itu akan terjadi. Oleh karena itu, tugas utama pemerintah dan akademisi bukanlah membangun ketakutan di tengah masyarakat, melainkan membangun kesiapsiagaan yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan mitigasi yang terukur," ujar Yozawardi. Ia berharap hasil dari ICDM 2026 ini nantinya dapat menjadi rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah dalam menyusun rencana kontinjensi yang lebih baik, efisien, dan ramah terhadap kearifan lokal.
Selain sesi diskusi pleno, ICDM 2026 juga menjadi ajang pertukaran riset mutakhir dari berbagai delegasi mancanegara. Berbagai topik mulai dari rekayasa struktur bangunan tahan bencana, sistem evakuasi berbasis data spasial, hingga pendekatan sosiologis dalam pemulihan pasca-bencana dibahas secara mendalam. Partisipasi aktif dari berbagai negara ini menunjukkan bahwa isu kebencanaan merupakan tantangan global yang memerlukan kerja sama internasional yang erat.
Salah satu poin penting yang mengemuka dalam konferensi ini adalah tantangan dalam mendokumentasikan kearifan lokal agar tidak hilang ditelan zaman. Banyak peserta konferensi sepakat bahwa digitalisasi kearifan lokal, seperti mengubah narasi lisan mengenai sejarah bencana ke dalam bentuk platform digital atau kurikulum pendidikan bencana di sekolah, merupakan langkah awal yang krusial. Dengan cara ini, generasi muda tidak hanya belajar tentang teknologi mitigasi, tetapi juga tetap memegang teguh identitas dan nilai-nilai lokal dalam menghadapi tantangan alam.
UNAND, melalui konferensi ini, kembali membuktikan komitmennya untuk tidak hanya menjadi menara gading akademik, tetapi juga menjadi pusat solusi bagi persoalan-persoalan riil yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan suksesnya penyelenggaraan ICDM 2026, diharapkan tercipta sebuah ekosistem kebencanaan yang tidak hanya tangguh secara infrastruktur, tetapi juga kuat secara mentalitas dan budaya.
Sebagai penutup, seluruh pihak yang hadir dalam konferensi sepakat bahwa keberlanjutan dalam manajemen bencana adalah sebuah perjalanan panjang. Teknologi akan terus berkembang, namun nilai-nilai lokal akan selalu menjadi kompas moral dan sosial dalam setiap upaya penyelamatan jiwa. Sinergi yang diinisiasi oleh Universitas Andalas melalui ICDM 2026 ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi terciptanya masyarakat yang lebih tangguh bencana, tidak hanya di Sumatera Barat, tetapi juga di seluruh Indonesia dan dunia. Komitmen untuk terus berinovasi sambil tetap menghargai warisan leluhur adalah kunci utama dalam membangun masa depan yang lebih aman bagi generasi mendatang di tengah ancaman alam yang terus membayangi.